Merek adalah identitas yang mencerminkan suatu perusahaan. Setiap usaha perlu memiliki ciri khas agar mudah dikenali, dan ciri khas ini akan membentuk nilai tambah yang disebut ekuitas merek. Ekuitas merek penting karena dapat memengaruhi cara konsumen melihat dan memilih produk, terutama saat perusahaan mengeluarkan produk baru. Oleh karena itu, setiap pelaku usaha perlu memiliki strategi yang tepat untuk memperkuat merek mereka. Salah satu cara yang paling relevan dan sampai sekarang masih digunakan adalah penerapan piramida Customer-Based Brand Equity (CBBE) yang dikembangkan oleh Kevin Lane Keller, dimana kerangka kerja ini menjelaskan cara membangun merek yang kuat berdasarkan persepsi dan perasaan konsumen. Mulai dari cara membangun kesadaran merek dan asosiasi merek, lalu membentuk persepsi kualitas yang akhirnya akan menciptakan loyalitas merek.
Bayangkan Anda masuk ke toko untuk membeli produk tertentu, lalu penjual di toko tersebut menawarkan produk yang lebih eksklusif atau produk tambahan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Kemungkinan besar, Anda pernah mengalami situasi seperti itu, misalnya saat membeli laptop baru. Awalnya, Anda berniat membeli laptop dengan harga Rp6 juta, tetapi pada akhirnya Anda ditawari laptop lain dengan harga Rp7 juta beserta tas laptop. Dalam dunia bisnis, kedua hal ini disebut cross selling (penjualan silang) dan up selling (penjualan tambahan). Kedua metode ini pada umumnya sangat berguna untuk meningkatkan nilai transaksi dan tingkat kepuasan pelanggan.
Dalam industri F&B (makanan dan minuman), loyalitas pelanggan merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi, tetapi juga sebuah aset yang sangat berharga untuk usaha dalam sektor ini. Loyalitas pelanggan dapat didefinisikan sebagai pembelian ulang dan rekomendasi produk dari pelanggan yang sudah ada kepada orang lain. Guna mencapai loyalitas, usaha perlu melewati tiga tahap sebelumnya, yakni kesadaran (awareness), pertimbangan (consideration), serta konversi (conversion). Dengan kata lain, sebuah usaha perlu (1) menarik perhatian konsumen, (2) membuat mereka mempertimbangkan pembelian, dan (3) membuat konsumen membeli sebuah produk sebelum dapat lanjut ke tahap (4) loyalitas. Adapun berbagai faktor yang dapat membangun serta memengaruhi loyalitas, di antaranya kualitas produk, kualitas pelayanan, dan kepuasan pelanggan. Namun, terdapat beberapa faktor lainnya juga yang memainkan peran penting untuk pencapaian loyalitas.
Internasional Organization for Standardization atau ISO merupakan organisasi internasional yang terdiri dari 162 negara, termasuk Indonesia (Bagaskara). ISO memiliki peran sentral dalam bisnis global dengan membuat peraturan atau standar yang berkaitan dengan perdagangan internasional. Standar ISO menyediakan kriteria yang konsisten bagi bisnis dan organisasi di seluruh dunia, memastikan bahwa produk dan layanan memenuhi tolak ukur global dan karenanya dapat bergerak bebas melintasi perbatasan internasional. Dengan adanya ISO, perusahaan domestik yang ingin melakukan perdagangan internasional bisa menjadi lebih mudah karena setiap standar menjadi dasar yang sama untuk setiap negara. Selain itu, ISO juga dapat membantu perusahaan dalam membangun kepercayaan baik untuk konsumen, klien, maupun mitra bisnis. Hal ini disebabkan oleh sertifikat ISO yang dinilai positif dimata publik sebagai stempel jaminan kualitas dan keamanan produk atau layanan. Melalui implementasi ISO, perusahaan dapat membuka peluang dengan lebih terstruktur dan siap bersaing di pasar global (Schirn A, 2025).
Penetapan harga merupakan elemen krusial dalam strategi bisnis karena mencerminkan nilai yang ditetapkan penjual sebagai alat tukar atas manfaat, barang, atau jasa yang diterima oleh konsumen (Ismail, I. 2025). Perusahaan sering kali menghadapi tantangan besar dalam menentukan titik harga yang optimal; harga yang terlalu rendah di bawah nilai yang ditawarkan dapat menyebabkan kerugian dan profitabilitas yang tidak maksimal, sementara harga yang terlalu tinggi berisiko menyebabkan kehilangan konsumen serta kegagalan produk di pasar. Secara tradisional, perusahaan mengandalkan tiga elemen klasik sebagai fondasi menentukan harga, yaitu biaya (harga minimal), nilai (harga maksimal), dan kompetitor ( harga rata-rata pasar). Namun, pendekatan ini sering kali bersifat taktis dan terbatas karena hanya melihat setiap elemen secara terisolasi tanpa memahami interaksi di antara ketiganya. Oleh sebab itu, artikel ini akan membahas strategi penentuan harga yang melibatkan interaksi antar setiap elemen klasik dengan menggunakan kerangka kerja Heksagon Penetapan Harga Strategis.
Brand trust adalah keyakinan yang dimiliki pelanggan terhadap kemampuan merek untuk memenuhi apa yang dijanjikannya (Binus University). Ketika sebuah perusahaan melakukan aksi, ia harus memastikan bahwa tindakan tersebut mencerminkan nilai yang membangun kepercayaan merek. Kepercayaan bukan sekedar kualitas, melainkan sebuah nilai-nilai yang diusung merek misalnya integritas, kredibilitas, dan tanggung jawab sosial. Konsumen akan semakin mempercayai merek yang “hidup” sesuai dengan nilai-nilai yang diiklankan. Terdapat banyak data yang menunjukkan bahwa kepercayaan merek sangat penting untuk kesuksesan pemasaran di era sekarang (Northwestern University). Perlu anda ketahui bahwa, Mayoritas transaksi yang terjadi merupakan pembelian produk dan layanan dari merek yang mereka percayai (Forbes). Dengan membangun kepercayaan, perusahaan dapat menarik lebih banyak pelanggan dan akhirnya mencapai loyalitas jangka panjang.
Kini, banyak UMKM telah menggunakan website untuk menawarkan dan memasarkan produknya secara digital dan menjangkau lebih banyak konsumen. Jika website memiliki desain yang modern dan mudah digunakan oleh konsumen, maka penjualan UMKM dapat meningkat dan konsumen dapat menjadi lebih puas karena bisa membeli produk secara online atau mencari informasi yang relevan sebelum melakukan pembelian. Guna memaksimalkan peluang yang dapat diperoleh jika berbisnis secara digital, UMKM harus memastikan agar website-nya disesuaikan dengan search engine optimization (SEO). Tujuannya adalah memudahkan konsumen untuk menemukan website-nya dan agar website tersebut ditampilkan lebih atas ketika konsumen melakukan pencarian di internet. Di sini, SEO merupakan taktik atau strategi yang dapat diterapkan di website melalui perubahan atau penyesuaian desain serta strukturnya (UPI YTPK).
Kini, banyak UMKM telah menggunakan website untuk menawarkan dan memasarkan produknya secara digital dan menjangkau lebih banyak konsumen. Jika website memiliki desain yang modern dan mudah digunakan oleh konsumen, maka penjualan UMKM dapat meningkat dan konsumen dapat menjadi lebih puas karena bisa membeli produk secara online atau mencari informasi yang relevan sebelum melakukan pembelian. Guna memaksimalkan peluang yang dapat diperoleh jika berbisnis secara digital, UMKM harus memastikan agar website-nya disesuaikan dengan search engine optimization (SEO). Tujuannya adalah memudahkan konsumen untuk menemukan website-nya dan agar website tersebut ditampilkan lebih atas ketika konsumen melakukan pencarian di internet. Di sini, SEO merupakan taktik atau strategi yang dapat diterapkan di website melalui perubahan atau penyesuaian desain serta strukturnya (UPI YTPK).
Internasional Organization for Standardization atau ISO merupakan organisasi internasional yang terdiri dari 162 negara, termasuk Indonesia (Bagaskara). ISO memiliki peran sentral dalam bisnis global dengan membuat peraturan atau standar yang berkaitan dengan perdagangan internasional. Standar ISO menyediakan kriteria yang konsisten bagi bisnis dan organisasi di seluruh dunia, memastikan bahwa produk dan layanan memenuhi tolak ukur global dan karenanya dapat bergerak bebas melintasi perbatasan internasional. Dengan adanya ISO, perusahaan domestik yang ingin melakukan perdagangan internasional bisa menjadi lebih mudah karena setiap standar menjadi dasar yang sama untuk setiap negara. Selain itu, ISO juga dapat membantu perusahaan dalam membangun kepercayaan baik untuk konsumen, klien, maupun mitra bisnis. Hal ini disebabkan oleh sertifikat ISO yang dinilai positif dimata publik sebagai stempel jaminan kualitas dan keamanan produk atau layanan. Melalui implementasi ISO, perusahaan dapat membuka peluang dengan lebih terstruktur dan siap bersaing di pasar global (Schirn A, 2025).
Kini, banyak UMKM telah menggunakan website untuk menawarkan dan memasarkan produknya secara digital dan menjangkau lebih banyak konsumen. Jika website memiliki desain yang modern dan mudah digunakan oleh konsumen, maka penjualan UMKM dapat meningkat dan konsumen dapat menjadi lebih puas karena bisa membeli produk secara online atau mencari informasi yang relevan sebelum melakukan pembelian. Guna memaksimalkan peluang yang dapat diperoleh jika berbisnis secara digital, UMKM harus memastikan agar website-nya disesuaikan dengan search engine optimization (SEO). Tujuannya adalah memudahkan konsumen untuk menemukan website-nya dan agar website tersebut ditampilkan lebih atas ketika konsumen melakukan pencarian di internet. Di sini, SEO merupakan taktik atau strategi yang dapat diterapkan di website melalui perubahan atau penyesuaian desain serta strukturnya (UPI YTPK).
Kini, banyak UMKM telah menggunakan website untuk menawarkan dan memasarkan produknya secara digital dan menjangkau lebih banyak konsumen. Jika website memiliki desain yang modern dan mudah digunakan oleh konsumen, maka penjualan UMKM dapat meningkat dan konsumen dapat menjadi lebih puas karena bisa membeli produk secara online atau mencari informasi yang relevan sebelum melakukan pembelian. Guna memaksimalkan peluang yang dapat diperoleh jika berbisnis secara digital, UMKM harus memastikan agar website-nya disesuaikan dengan search engine optimization (SEO). Tujuannya adalah memudahkan konsumen untuk menemukan website-nya dan agar website tersebut ditampilkan lebih atas ketika konsumen melakukan pencarian di internet. Di sini, SEO merupakan taktik atau strategi yang dapat diterapkan di website melalui perubahan atau penyesuaian desain serta strukturnya (UPI YTPK).
Bayangkan Anda masuk ke toko untuk membeli produk tertentu, lalu penjual di toko tersebut menawarkan produk yang lebih eksklusif atau produk tambahan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Kemungkinan besar, Anda pernah mengalami situasi seperti itu, misalnya saat membeli laptop baru. Awalnya, Anda berniat membeli laptop dengan harga Rp6 juta, tetapi pada akhirnya Anda ditawari laptop lain dengan harga Rp7 juta beserta tas laptop. Dalam dunia bisnis, kedua hal ini disebut cross selling (penjualan silang) dan up selling (penjualan tambahan). Kedua metode ini pada umumnya sangat berguna untuk meningkatkan nilai transaksi dan tingkat kepuasan pelanggan.
Penetapan harga merupakan elemen krusial dalam strategi bisnis karena mencerminkan nilai yang ditetapkan penjual sebagai alat tukar atas manfaat, barang, atau jasa yang diterima oleh konsumen (Ismail, I. 2025). Perusahaan sering kali menghadapi tantangan besar dalam menentukan titik harga yang optimal; harga yang terlalu rendah di bawah nilai yang ditawarkan dapat menyebabkan kerugian dan profitabilitas yang tidak maksimal, sementara harga yang terlalu tinggi berisiko menyebabkan kehilangan konsumen serta kegagalan produk di pasar. Secara tradisional, perusahaan mengandalkan tiga elemen klasik sebagai fondasi menentukan harga, yaitu biaya (harga minimal), nilai (harga maksimal), dan kompetitor ( harga rata-rata pasar). Namun, pendekatan ini sering kali bersifat taktis dan terbatas karena hanya melihat setiap elemen secara terisolasi tanpa memahami interaksi di antara ketiganya. Oleh sebab itu, artikel ini akan membahas strategi penentuan harga yang melibatkan interaksi antar setiap elemen klasik dengan menggunakan kerangka kerja Heksagon Penetapan Harga Strategis.
Merek adalah identitas yang mencerminkan suatu perusahaan. Setiap usaha perlu memiliki ciri khas agar mudah dikenali, dan ciri khas ini akan membentuk nilai tambah yang disebut ekuitas merek. Ekuitas merek penting karena dapat memengaruhi cara konsumen melihat dan memilih produk, terutama saat perusahaan mengeluarkan produk baru. Oleh karena itu, setiap pelaku usaha perlu memiliki strategi yang tepat untuk memperkuat merek mereka. Salah satu cara yang paling relevan dan sampai sekarang masih digunakan adalah penerapan piramida Customer-Based Brand Equity (CBBE) yang dikembangkan oleh Kevin Lane Keller, dimana kerangka kerja ini menjelaskan cara membangun merek yang kuat berdasarkan persepsi dan perasaan konsumen. Mulai dari cara membangun kesadaran merek dan asosiasi merek, lalu membentuk persepsi kualitas yang akhirnya akan menciptakan loyalitas merek.
Dalam industri F&B (makanan dan minuman), loyalitas pelanggan merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi, tetapi juga sebuah aset yang sangat berharga untuk usaha dalam sektor ini. Loyalitas pelanggan dapat didefinisikan sebagai pembelian ulang dan rekomendasi produk dari pelanggan yang sudah ada kepada orang lain. Guna mencapai loyalitas, usaha perlu melewati tiga tahap sebelumnya, yakni kesadaran (awareness), pertimbangan (consideration), serta konversi (conversion). Dengan kata lain, sebuah usaha perlu (1) menarik perhatian konsumen, (2) membuat mereka mempertimbangkan pembelian, dan (3) membuat konsumen membeli sebuah produk sebelum dapat lanjut ke tahap (4) loyalitas. Adapun berbagai faktor yang dapat membangun serta memengaruhi loyalitas, di antaranya kualitas produk, kualitas pelayanan, dan kepuasan pelanggan. Namun, terdapat beberapa faktor lainnya juga yang memainkan peran penting untuk pencapaian loyalitas.
Brand trust adalah keyakinan yang dimiliki pelanggan terhadap kemampuan merek untuk memenuhi apa yang dijanjikannya (Binus University). Ketika sebuah perusahaan melakukan aksi, ia harus memastikan bahwa tindakan tersebut mencerminkan nilai yang membangun kepercayaan merek. Kepercayaan bukan sekedar kualitas, melainkan sebuah nilai-nilai yang diusung merek misalnya integritas, kredibilitas, dan tanggung jawab sosial. Konsumen akan semakin mempercayai merek yang “hidup” sesuai dengan nilai-nilai yang diiklankan. Terdapat banyak data yang menunjukkan bahwa kepercayaan merek sangat penting untuk kesuksesan pemasaran di era sekarang (Northwestern University). Perlu anda ketahui bahwa, Mayoritas transaksi yang terjadi merupakan pembelian produk dan layanan dari merek yang mereka percayai (Forbes). Dengan membangun kepercayaan, perusahaan dapat menarik lebih banyak pelanggan dan akhirnya mencapai loyalitas jangka panjang.
